Langsung ke konten utama

Pengertian Sholat Tahajjud

1. Pengertian

Tahajjud (Tahajud, Indonesia; Tahjud, Banjar) artinya bangun dari tidur.

Shalat tahajud ialah shalat sunnah yang dikerjakan pada malam hari dan dilaksanakan setelah tidur lebih dahulu walaupun tidurnya hanya sebentar. Orang yang melaksanakan tahajud disebut "Mutahajjid". Karena dilaksanakan di waktu malam disebut juga Qiyamul-Lail.

2. Keutamaan Shalat Malam:

Allah SWT berfirman:

وَمِنَ اللَّيْلِ فَتَهَجَّدْ بِهِ نَافِلَةً لَكَ عَسَى أَنْ يَبْعَثَكَ رَبُّكَ مَقَامًا مَحْمُودًا

Dan pada sebahagian malam hari bersembahyang tahajudlah kamu sebagai suatu ibadah tambahan bagimu: mudah-mudahan Tuhan-mu mengangkat kamu ke tempat yang terpuji" (QS. Al Isra 79)

Di dalam hadits diceritakan:
يُحْشَرُ النَّاسُ فِي صَعِيْدِ وَاحِدٍ يَوْمَ الْقِيَامَةِ فَيُنَادِي مُنَادٍ فَيَقُولُ : أَيْنَ الَّذِينَ كَانُوْا تَجَافَى جُنُوبُهُمْ عَنِ الْمَضَاجِعِ ؟ فَيَقْدُمُوْنَ وَهُمْ قَلِيْلٌ ،

فَيَدْخُلُوْنَ الْجَنَّةَ بِغَيْرِ حِسَابٍ

Maksudnya: "Pada hari kiamat, dihalau manusia di tanah yang rata, berseru Malaikat "Mana orang-orang yang qiyamullail (shalat tahajud), hanya sedikit yang bangkit, maka mereka masuk surga tanpa hisab" (HR. Imam Baihaqi)

Nabi SAW bersabda pula :

، وَ أَطْعِمُوا الطَّعَامَ ، وَصِلُوا الْأَرْحَامَ وَصَلُّوْا يَا أَيُّهَا النَّاسُ أَفْسُوا السَّلَامَ ، وَ

بِالْيْلِ وَالنَّاسُ نِيَامٌ تَدْخُلُوا الْجَنَّةَ بِسَلَامٍ

"Wahai manusia, sebarkan perdamaian, berilah makanan, hubungkan silaturrahim dirikan shalat malam dikala manusia (orang kafir) sedang tidur, anda masuk surga dengan selamat". (HR. Al Hakim, Ibnu Majah dan Tirmizi)

Dalam hadits yang lain ia bersabda:
عَلَيْكَ بِقِيَامِ اللَّيْلِ فَإِنَّهُ دَابُ الصَّالِحِيْنَ قَبْلَكُمْ ، وَمَقْرَبَةٌ إِلَى رَبِّكُمْ ،

وَمُكَفِّرَةٌ لِلسَّيِّئَاتِ، وَمَنْهَاةٌ عَنِ الْإِثْمِ ، وَمَطْرَدَةٌ لِلدَّاءِ عَنِ الْجَسَدِ

"Hendaklah kamu mendirikan shalat malam, shalat malam adalah kebiasaan orang-orang saleh sebelum kamu, sarana untuk mendekatkan diri kepada Tuhanmu, penghapus segala dosa-dosa kesalahan, pencegah kejahatan dan penolak penyakit dari badan". (HR. Salman al Farisi)

3. Waktu Tahajud

Allah SWT menyerahkan kepada Nabi SAW untuk memilih waktu shalat tahajud yang tepat sesuai dengan kelonggaran yang ada pada diri Nabi SAW, yaitu: sesudah shalat Isya sampai terbit fajar, bisa dikerjakan di permulaan, di pertengahan dan diakhir malam.

Jika diprediksi ke waktu Indonesia bagian Tengah dapat diperkirakan sebagai berikut:

Sepertiga pertama ± 20.00 s/d 23.00 wita (saat utama).

Sepertiga kedua ± 23.00 s/d 2.00 wita (saat lebih utama).

Sepertiga ketiga 02.00 s/d masuk waktu Subuh (saat paling utama). Nabi SAW bersabda: "Tuhan kita, Azza wajalla, setiap malam turun ke langit dunia ketika masih tersisa sepertiga terakhir malam, Dia berfirman:"Barang siapa yang berdo'a kepadaku niscaya Aku kabulkan, barang siapa yang meminta niscaya Aku beri, barang siapa yang memohon ampun kepadaku, niscaya Aku ampuni". (HR. Jamaah). Imam Nawawi di dalam kitabnya Al Majmu' berpendapat : untuk bertahajud, jika malam dibagi dua, maka pertengahan kedua lebih afdhal; dan jika malam dibagi tiga, maka pertiga kedua yang lebih afdhal.

4. Menuju Pelaksanaan Tahajud

A. Pengantar Tahajud :

1) Menghindari kemaksiatan;

2) Menghindari kemewahan di tempat tidur,

3) Menghindari pandangan, dan pembicaraan yang tidak perlu;

4) Memakan makanan halal dan menghindari makanan haram;

5) Tidak terlalu banyak makan;

6) Tidak bekerja terlalu berat pada siang hari;

7) Berdo'a sebelum tidur agar terbebas dari belenggu setan;

8) Banyak berzikir;

9) Tidur tidak terlalu malam;

10) Membiasakan tidur siang sebentar.

B. Mukaddimah Tahajud :

1) Berwudhu sebelum tidur Nabi SAW bersabda: "Sucikanlah jasmani ini, niscaya Allah menyucikan (rohani) kalian, sebab, seorang hamba yang tidur dalam keadaan suci, satu malaikat ikut tidur dalam selimut yang dikenakannya. Setiap kali dia berbalik pada malam itu,malaikat tadi berkata, Ya Allah, ampunilah hamba-Mu ini karena dia tidur dalam keadaan suci". (HR. Al-Thabrani)

2) Tidur seperti tidurnya Rasulullah SAW dan berniat untuk bangun malam.

C. Persiapan Tahajud:

1) Berzikir ketika bangun malam;

2) Bersikat gigi (bersiwak);

3) Mandi dan bersuci;

4) Memakai pakaian yang bagus;

5) Berharum-haruman;

6) Mengikhlaskan dan menghadirkan hati dengan Allah SWT;

7) Memandang langit dan membaca Surah Ali-Imran ayat 190 dst.
Dalam bertahajud membangunkan keluarganya untuk tahajud bersama. seseorang seyogyanya Allah SWT berjanji melimpahkan rahmatNya kepada orang itu" (HR. Bukhari Muslim); dan ia tercatat sebagai Al Zakirin/Al Zakirat. (HR. Abu Daud)

Menurut Sallamah Muhammad Abu Al-Kamal bahwa dalam bukunya "Qiyam al Lail wa al Munajat 'inda al Sahr" untuk memudahkan tahajud seseorang memerlukan selalu:

1) Meningkatkan keimanan;

2) Membersihkan hati dari dengki;

3) Menanamkan ketakutan dalam hati;

4) Mengingat keutamaan shalat malam;

5) Mengingat kenikmatan dalam bermunajat di hadapan Allah SWT;

6) Tidak sering berangan-angan;

7) Membayangkan tidur dalam kubur,

8) Mengingat-ingat akhirat, kematian dan kehidupan setelah mati.

D. Pelaksanaan tahajud

1) Shalat Iftitah dua rakaat. (HR. Muslim dari Abu Hurairah r.a.)

2) Tahajjud delapan rakaat dikerjakan dengan empat kali salam:

dua rakaat pertama pemantapan syukur nikmat,
dua rakaat kedua pemantapan permohonan ampun,

dua rakaat ketiga permohonan kebaikan dunia akhirat,

dua rakaat keempat penyerahan diri kepada Allah SWT.

3) Shalat witir tiga rakaat dengan dua kali salam.

Catatan:

- tahajud tidak ada batasan jumlah rakaat.

ayat-ayat yang dibaca bebas, yang mudah dan disukai, diutamakan yang dapat membawa khusyu.'

tidak mutlak seperti tersebut di atas,bisa dengan cara yang lain, karena Rasulullah SAW melaksanakannya dengan cara yang berbeda-beda.

5. Qiyamul-Lail Rasulullah SAW:

Menurut Sallamah Muhammad Abu Al Kamal di dalam bukunya: Qiyam al Lail wa al Munajat 'inda al Sahr disebutkan bahwa ada empat cara Rasulullah SAW mendirikan shalat malam, yaitu:

1) Shalat 11 rakaat dengan cara:

Shalat 8 rakaat tanpa tasyahud, dimana pada rakaat ke 8 berzikir dan berdo'a, lalu bangkit ke rakaat ke 9 tanpa salam.

Pada rakaat 9 duduk tasyahud dan salam.

- Kemudian shalat lagi 2 rakaat

2) Shalat 13 rakaat dengan cara

-Shalat tahajud 8 rakaat dengan 4 kali salam

Shalat witir 5 rakaat dengan sekali salam, tasyabud pada rakaat terakhir, kemudian salam

3) Shalat tidak terhitung berapa rakaatnya dengan cara

Setiap 2 rakaat sekali salam.

Shalat witir 3 rakaat sekali salam.

4) Shalat 13 rakaat dengan cara:

Shalat 2 rakaat yang ringkas sebagai iftitah

Shalat tahajud 8 rakaat dengan 4 kali salam.

Shalat witir 3 rakaat dengan 2 kali salam.

Di dalam hadits riwayat Bukhari dan Muslim didapatkan lagi dua cara yang lain, yaitu:

1) Di dalam HR. Bukhari dari Aisyah ra. Rasulullah SAW shalat 11 rakaat dengan cara:

Shalat 8 rakaat 2 kali salam,

Shalat 3 rakaat sekali salam.

2) Di dalam HR. Muslim Rasulullah SAW shalat 11 rakaat dengan cara:
Shalat 10 rakaat, setiap 2 rakaat sekali salam,

Shalat 1 rakaat terakhir sekali salam.

Ada yang mempredeksi dua cara yang terakhir ini adalah shalat sunat Witir, Wallahu 'alam


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Berikut contoh naskah pembawa acara (MC) untuk acara Tasmiyah (Aqiqah dan Pemberian Nama Bayi) dengan susunan yang umum digunakan:

MC: Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh. Alhamdulillahi rabbil ‘alamin, washalatu wasalamu ‘ala asyrafil anbiya-i wal mursalin, wa ‘ala alihi wa ashabihi ajma’in. Amma ba’du. Yang terhormat para alim ulama, tokoh masyarakat, serta seluruh tamu undangan yang dirahmati Allah. Pertama-tama, marilah kita panjatkan puji dan syukur ke hadirat Allah Subhanahu wa Ta’ala, yang telah memberikan nikmat dan hidayah-Nya sehingga kita dapat berkumpul dalam acara Tasmiyah (Aqiqah dan Pemberian Nama Bayi) dalam keadaan sehat wal afiat. Salawat serta salam semoga senantiasa tercurah kepada junjungan kita, Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam, beserta keluarga, sahabat, dan kita sebagai umatnya hingga akhir zaman. Hadirin yang berbahagia, Sebelum kita memulai acara, izinkan saya membacakan susunan acara pada hari ini: 1. Pembukaan 2. Pembacaan Ayat Suci Al-Qur'an 3. Kata Sambutan dari Tuan Rumah 4. Ceramah Singkat tentang Aqiqah dan Pemberian Nama 5. Pembacaan Doa 6. Makan Bersama 7. P...

CONTOH UNDANGAN SHALAT JENAZAH

_*UNDANGAN SHALAT JENAZAH *===========================* *إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَِـــــــــــيْهِ رَاجِـــــــــــعُون* *_TELAH MENINGGAL DUNIA SEORANG PEREMPUAN :_* *NAMA : .................* *UMUR : ...................*  *ALAMAT : ................)*  *KELUARGA : ..............* *MENINGGAL DUNIA : KAMIS, 13 RABIUL AWAL 1445 H / 28 SEPTEMBER 2023 M. JAM : 03.00 WITA.* *DI SHALATKAN PADA : KAMIS, 13 RABIUL AWAL 1445 H / 28 SEPTEMBER 2023 M.*  *WAKTU : BA'DA SHALAT MAGRIB.* *TEMPAT : RUANG INDUK MASJID * *DIMAKAMKAN : ALKAH KELUARGA, * *ATAS NAMA KELUARGA MENGUCAPKAN TERIMA KASIH IKUT MENSHALATKAN JENAZAH, MOHON MAAF ATAS KESALAHAN SEMASA HIDUP DAN BILA ADA TERKAIT HUTANG PIUTANG SEGERA HUBUNGI PIHAK KELUARGA* *اللهم اغفر لها، وارحمها وعافها، واعف عنها، ووسع مدخلها، واغسلها بالماء والثلج والبرد، ونقها من الخطايا كما ينقى الثوب الأبيض من الدنس، وأبدلها دارا خيرا من دارها، وأهلا خيرا من أهلها، وأدخلها الجنة، وقها فتنة القبر وعذاب النار* *جزا كم الله خيرا*

semanagat KERJANYA

Ibn Khaldun dalam Muqaddimah sudah menulis sebuah hukum sosial yang tragis: "Ketika negara masih kokoh, pajak sedikit namun hasilnya banyak. Tetapi ketika negara lemah, pajak diperbanyak, dan hasilnya justru semakin berkurang. Sebab rakyat tak lagi mampu menanggung beban." Ironinya, teori ini kini terbukti di depan mata. Pajak dinaikkan, subsidi dipangkas, pungutan diperluas, tetapi kesejahteraan rakyat tetap jalan di tempat. Sementara kelas istana justru semakin bugar dengan fasilitas, tunjangan, dan gaya hidup yang tak pernah mengenal kata hemat. Padahal, dalam tradisi fikih, prinsip penarikan pajak harus berlandaskan keadilan (al-‘adl fi at-taklīf). Imam al-Mawardi dalam al-Ahkām as-Sulthāniyyah menegaskan, harta rakyat tidak boleh dipungut kecuali dengan hak yang jelas dan untuk kemaslahatan yang nyata. Sebab itu, ‘Umar bin Khattab RA menolak menambah beban rakyat meskipun kas negara menipis, dengan kalimat yang tegas: "Aku tidak akan mempertemukan mereka...