Mimpi bertemu Rasulullah Saw adalah karunia besar, tapi prestasi sejati bukanlah di sana. Seperti jawaban Guru Seman Mulya ketika seseorang bercerita tentang mimpinya bertemu Rasulullah. Beliau menjawab ringkas, "itu tandanya kamu kebanyakan tidur." Sebuah respons yang mengandung hikmah mendalam agar keistimewaan mimpi tersebut tidak untuk melahirkan rasa bangga, apalagi membuat diri merasa lebih mulia dibanding orang lain. Imam Ghazali dalam Ihya Ulumuddin mengingatkan bahwa keutamaan seorang hamba tidak diukur dari pengalaman spiritual, tetapi dari sejauh mana ia meneladani Rasulullah Saw. Sebagaimana firman Allah: "Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu" (QS. Al-Ahzab: 21). Maka, kebanggaan bukanlah karena bermimpi bertemu Rasulullah, tetapi bagaimana kita meneladani setidaknya 4 sifat utamanya, yakni siddiq, fathanah, tabligh, amanah. Imam Ibnu Hajar Al-Asqalani dalam Fathul Bari juga menegaskan bahwa mimpi be...