Bayangkan... jutaan manusia berkumpul di satu tempat. Memakai pakaian yang hampir sama. Tanpa jabatan. Tanpa kemewahan. Tanpa identitas dunia yang biasa dibanggakan. Dan tempat itu bernama: Arafah. Di sana manusia seperti diingatkan, bahwa suatu hari nanti kita juga akan dikumpulkan di hadapan Allah dalam keadaan yang sangat sederhana. Tidak ada lagi yang ditanya: "Kerja di mana?" "Punya apa?" "Atau seberapa terkenal?" Karena di Padang Mahsyar nanti, yang benar-benar tersisa hanyalah: amal dan isi hati. Mungkin itu sebabnya banyak orang menangis ketika wukuf. Bukan cuma karena capek. Tapi karena hati tiba-tiba sadar: "Suatu hari aku benar-benar akan berdiri sendiri di hadapan Allah..." Dan ihram... dibuat tanpa kemewahan. Sederhana. Mirip kain kafan. Seolah Allah sedang mengingatkan: bahwa semua manusia pada akhirnya akan kembali tanpa membawa apa-apa selain amalnya. Menariknya lagi, di Arafah orang lebih sibuk berdoa daripada melihat...
اَللهُمَّ صَلِّ عَلَى سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ وَعَلَى آلِ سَيِّدِنَا مُحَمَّدٍ