Seseorang menemui Khalifah Umar bin Khattab mengeluhkan perihal anaknya. yang durhaka.
Umar: Apa yang dilakukan anakmu kepadamu?
Bapak: la sering bicara kasar
dan membentakku, dia juga pernah menginjakku, memukulku dan masih banyak perlakuan kasarnya terhadapku.
Umar: Kalau begitu, panggil ia kemari!
Selang beberapa waktu, sang anak datang dan langsung mendapat kecaman dari Umar radhiyallahu 'anhu,
Umar: Anak muda! Kenapa kamu
berani bertindak kasar kepada Ayahmu. Apakah kamu tidak tahu kalau Allah memerintahkan anak berbakti kepada orang tuanya.
Anak: Wahai Amirul Mukminin, jangan lekas menghukumi dirku, dengarkan dahulu, apa yang sebenarnya terjadi.
Umar: Baik, silakan berbicara sesukamu!
Anak: Wahai Amirul Mukminin, saya tahu bahwa seorang ayah memiliki hak yang harus dipenuhi oleh anaknya. Tapi, bukankah seorang anak juga memiliki hak yang harus dipenuhi ayahnya?
Umar: Benar.
Anak: Lalu apa hak anak yang wajib ditunaikan ayahnya?
Umar: Ada tiga kewajiban. Pertama, memilihkan calon ibu yang baik -jangan sampai memilih istri yang memiliki sifat cela dan pendosa).
Kedua, memberi nama yang indah dan baik. Ketiga, mengajarinya menghafalkan Al-Quran.
Anak: Wahai Amirul Mukminin!
Demi Allah! Tidak satupun hak saya yang dipenuhi oleh Ayahku.
Umar: Bagaimana bisa?
Anak: Ibu saya adalah budak hitam yang ayahku beli dengan harga hanya 2 dirham. Kemudian ibu saya hamil. Ketika saya lahir, ayah menamaiku Ju'al (kumbang tahi yang biasa mendorong kotoran ke dalam lobang). Selain itu, ayahku tidak pernah mengajarkan Al-Quran kepadaku.
Umar mengarahkan kemarahannya kepada si ayah dan berkata, "Pergi kamu, jangan lagi aku melihat dirimu, demi Allah kamu telah mendurhakai anakmu sebelum ia mendurhakaimu." (Mas'uliyyatur Rajul li Usratihi, Syeikh DR. Muhammad bin Abdurrahman al-Arify)
Komentar
Posting Komentar