Langsung ke konten utama

Pesona Dunia, Jangan Melalaikanmu!

  Dalam kitab Nasha'ihul Ibad, Imam Nawawi Al-Bantani mengungkap sebuah syair:
"Wahai orang yang sibuk dengan dunia sungguh ia telah tertipu oleh panjangnya angan-angan.
Atau selalu berada dalam kelalaian hingga ajal datang kepadanya
Kematian itu datang tanpa pemberitahuan
Balasan amal perbuatan menanti di alam kubur.
Bersabarlah dalam menghadapi kesusahan dunia
Sebab tidak ada kematian kecuali jika telah datang ajalnya."

  Rasulullah SAW bersabda:
مَنْ تَرَكَ الدُنْيَا أَمَرَّ مِنْ الصَبْرِ وَأَشَدُّمِنْ حَطْمِ السُيُوْفِ فِيْ سَبِيْلِ اللِه وَ لَا يَتْرُكُهَا أَحَدٌ إِلَّا أَعْطَاهُ اللهُ مِثْلَ مَا يُعْطِى الشُهَدَاءَ وَتَرَكُهَا قِلَّةُ الأَكْلِوَ الشِّبَعِ وَ بُغْضُ الثِنَاءِ مِنْ النَّاسِ فَإِنَّهُ مَنْ أحَبَّ الِثنَاءَ أَحَّبَ الدُنْيَا وَنَعِيْمَهَا وَ مَنْ سَرَّهُ النَعِيْمُ كُلُّ النَعِيْمِ فَلْيَدَعْ الدُنْيَا وَ الثِنَاءَ مِنْ النَّاسِ

  "Menjauhi kesenangan duniawi lebih pahit rasanya daripada pahitnya bratawali dan lebih menyakitkan daripada sayatan pedang di medan perang. Tiada seorang pun yang menjauhinya, Allah akan menganugrahkan pahala yang sama seperti yang diberikan-Nya kepada para syuhada. 

  Cara menjauhi kesenangan duniawi adalah dengan sedikit makan dan tidak terlalu kenyang serta tidak suka dipuji orang. Bagi siapa yang senang dipuja oleh orang lain, itu bermakna bahwa dia menyukai dunia dan kesenangannya. Karena itu, bagi siapa yang ingin meraih kesenangan hakiki hendaklah menjauhi keduniawian dan pujian orang lain.” (HR. al-Dailami).

مَنْ كَانَتْنِيَّتُهُ الآخِرَةُ جَمَعَ اللُه شَمْلَهُ وَجَعَلَ غِنَاهُ فِيْ قَلْبِهِ وَأَتَتْهُ الدُنْيَا رَاغمَةً وَمَنْ كَانَتْ نِيَّتُهُ الدُنْيَا فَرَّقَ اللهُ عَلَيْهِ أَمْرَهُ وَجَعَلَ فَقْرَهُ بَيْنَ عَيْنَيْهِ وَلَمْ يَأْتِيهِ مِنْ الدُنْيَا إِلاَّ مَاكَتَبَ لَهُ

  “Siapa yang menjadikan akhirat sebagai tujuannya, maka Allah akan membuat baik semua urusannya, menjadikan kekayaan pada hatinya, dan dunia akan datang kepadanya dengan mudah.

  Siapa yang menjadikan dunia sebagai tujuannya, maka Allah akan mencerai beraikan segala urusannya, dan menjadikan kefakiran ada di hadapannya dan dunia tidak akan datang kepadanya, kecuali sebatas apa yang telah ditentukan. ”

Imam Nawawi Al-Bantani,  kitab Nasha'ihul Ibad

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Berikut contoh naskah pembawa acara (MC) untuk acara Tasmiyah (Aqiqah dan Pemberian Nama Bayi) dengan susunan yang umum digunakan:

MC: Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh. Alhamdulillahi rabbil ‘alamin, washalatu wasalamu ‘ala asyrafil anbiya-i wal mursalin, wa ‘ala alihi wa ashabihi ajma’in. Amma ba’du. Yang terhormat para alim ulama, tokoh masyarakat, serta seluruh tamu undangan yang dirahmati Allah. Pertama-tama, marilah kita panjatkan puji dan syukur ke hadirat Allah Subhanahu wa Ta’ala, yang telah memberikan nikmat dan hidayah-Nya sehingga kita dapat berkumpul dalam acara Tasmiyah (Aqiqah dan Pemberian Nama Bayi) dalam keadaan sehat wal afiat. Salawat serta salam semoga senantiasa tercurah kepada junjungan kita, Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam, beserta keluarga, sahabat, dan kita sebagai umatnya hingga akhir zaman. Hadirin yang berbahagia, Sebelum kita memulai acara, izinkan saya membacakan susunan acara pada hari ini: 1. Pembukaan 2. Pembacaan Ayat Suci Al-Qur'an 3. Kata Sambutan dari Tuan Rumah 4. Ceramah Singkat tentang Aqiqah dan Pemberian Nama 5. Pembacaan Doa 6. Makan Bersama 7. P...

CONTOH UNDANGAN SHALAT JENAZAH

_*UNDANGAN SHALAT JENAZAH *===========================* *إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَِـــــــــــيْهِ رَاجِـــــــــــعُون* *_TELAH MENINGGAL DUNIA SEORANG PEREMPUAN :_* *NAMA : .................* *UMUR : ...................*  *ALAMAT : ................)*  *KELUARGA : ..............* *MENINGGAL DUNIA : KAMIS, 13 RABIUL AWAL 1445 H / 28 SEPTEMBER 2023 M. JAM : 03.00 WITA.* *DI SHALATKAN PADA : KAMIS, 13 RABIUL AWAL 1445 H / 28 SEPTEMBER 2023 M.*  *WAKTU : BA'DA SHALAT MAGRIB.* *TEMPAT : RUANG INDUK MASJID * *DIMAKAMKAN : ALKAH KELUARGA, * *ATAS NAMA KELUARGA MENGUCAPKAN TERIMA KASIH IKUT MENSHALATKAN JENAZAH, MOHON MAAF ATAS KESALAHAN SEMASA HIDUP DAN BILA ADA TERKAIT HUTANG PIUTANG SEGERA HUBUNGI PIHAK KELUARGA* *اللهم اغفر لها، وارحمها وعافها، واعف عنها، ووسع مدخلها، واغسلها بالماء والثلج والبرد، ونقها من الخطايا كما ينقى الثوب الأبيض من الدنس، وأبدلها دارا خيرا من دارها، وأهلا خيرا من أهلها، وأدخلها الجنة، وقها فتنة القبر وعذاب النار* *جزا كم الله خيرا*

semanagat KERJANYA

Ibn Khaldun dalam Muqaddimah sudah menulis sebuah hukum sosial yang tragis: "Ketika negara masih kokoh, pajak sedikit namun hasilnya banyak. Tetapi ketika negara lemah, pajak diperbanyak, dan hasilnya justru semakin berkurang. Sebab rakyat tak lagi mampu menanggung beban." Ironinya, teori ini kini terbukti di depan mata. Pajak dinaikkan, subsidi dipangkas, pungutan diperluas, tetapi kesejahteraan rakyat tetap jalan di tempat. Sementara kelas istana justru semakin bugar dengan fasilitas, tunjangan, dan gaya hidup yang tak pernah mengenal kata hemat. Padahal, dalam tradisi fikih, prinsip penarikan pajak harus berlandaskan keadilan (al-‘adl fi at-taklīf). Imam al-Mawardi dalam al-Ahkām as-Sulthāniyyah menegaskan, harta rakyat tidak boleh dipungut kecuali dengan hak yang jelas dan untuk kemaslahatan yang nyata. Sebab itu, ‘Umar bin Khattab RA menolak menambah beban rakyat meskipun kas negara menipis, dengan kalimat yang tegas: "Aku tidak akan mempertemukan mereka...