Langsung ke konten utama

Allah tidak pernah terlambat

Alhamdulillah. Semoga Alloh Yang Maha Mendengar, senantiasa memberikan petunjuk kepada kita sehingga kita bisa menjadi hamba-hamba-Nya yang pandai bersyukur. Sholawat dan salam semoga selalu terlimpah kepada baginda nabi Muhammad Saw.

Syaikh Ibnu Atho’illah, semoga Alloh meridhoinya, menerangkan, “Jangan menuntut Alloh karena terlambatnya permintaan yang telah engkau minta kepada-Nya, tetapi hendaknya engkau koreksi dirimu, tuntut dirimu, supaya tidak terlambat melaksanakan kewajiban-kewajibanmu terhadap Alloh, Tuhanmu.”

Jadi saudaraku, jikalau kita mengenal Alloh Swt. dengan baik, maka pasti kita tidak akan protes terhadap Alloh atas apapun yang Alloh tetapkan untuk kita. Karena, Alloh adalah pencipta kita, Alloh yang memiliki diri kita, dan Alloh Maha Tahu segala permasalahan dan keperluan kita.

Tanpa kita jelaskan kepada Alloh, sesungguhnya Alloh sudah mengetahui setiap persoalan kita dan kebutuhan kita. Karena permasalahan kita pun tidak akan ada kecuali Alloh yang mengizinkan. Kita lapar, Alloh yang menciptakan lapar. Dan, pada saat yang sama, Alloh pula yang menciptakan rezeki berupa makanan.

Kita tidak mengerti mengapa kita harus merasakan haus. Namun, Alloh menciptakan haus itu dan sekaligus menciptakan air untuk memenuhinya. Alloh menciptakan tubuh kita ini dengan 70%-nya merupakan air. Dan, Alloh pun tahu kita tidak akan bisa bertahan lama jika hidup tanpa air. Memang ada kalanya Alloh mengizinkan tidak ada air untuk beberapa saat, namun pasti ada hikmahnya.

Ada kalanya pula dalam keadaan lapar, Alloh menghendaki agar kita tidak langsung bertemu dengan makanan sehingga beberapa saat kita harus merasakan lapar lebih lama. Namun, pasti ada hikmahnya. Boleh jadi supaya kita bisa lebih mensyukuri nikmat Alloh, yang mana selama ini kita seringkali lupa jika makanan dengan mudah kita temukan.

Dengan ditundanya makanan, maka ketika kita akhirnya bertemu dengan makanan meski sedikit saja, rasanya akan lebih nikmat. Kalau kita terbiasa dengan makanan yang berlimpah, maka akan kurang rasa syukurnya. Maka, untuk melatih kita pandai bersyukur, ditahanlah makanan oleh Alloh Swt.

Oleh karena itu sahabatku, janganlah berburuk sangka kepada Alloh jikalau suatu saat ada permohonan kita atau ada kebutuhan kita yang kita rasa terlambat terpenuhi. Jangan kita buruk sangka kepada Alloh jika suatu saat kita berdoa dan berusaha sekuat tenaga, namun harapan kita mashi belum juga terwujud.

Alloh Swt. berfirman dalam sebuah hadits qudsi, “Aku sesuai dengan persangkaan hamba pada-Ku.” (Muttafaqun’alaih).

Jangan fokus pada permohonan, keinginan, yang belum dipenuhi oleh Alloh Swt., namun fokuslah pada kekurangan kita, pada keterlambatan kita untuk menunaikan perintah Alloh dan menjauhi larangan-larangan-Nya.

Seperti seseorang yang belum juga mendapatkan jodoh, jangan berpikir jodohnya terlambat. Karena tindakan Alloh tidak pernah ada yang terlambat. Alloh selalu tepat waktu, memberi kita di waktu yang tepat menurut-Nya untuk kita.

Perhatikanlah organ tubuh kita. Mata kita berkedip secara spontan tanpa ada keterlambatan. Jantung kita berdegup memompa darah, juga tanpa keterlambatan. Paru-paru kita berfungsi memompa udara juga tanpa keterlambatan. Semuanya tepat pada waktunya dan teratur. Kita seringkali lupa pada hal-hal seperti ini. Padahal kita tidak pernah meminta kepada Alloh supaya mata kita berkedip, jantung berdegup dan paru-paru bekerja tepat pada waktunya, namun semuanya beres karena Alloh Maha Tahu keperluan kita. Subhaanalloh.

Ketika kita merasa Alloh terlambat mengabulkan doa kita, maka itu adalah bentuk buruk sangka kita kepada-Nya. Padahal mengabulkan doa bukanlah urusan kita. Urusan kita adalah berdoa kepada Alloh, karena doa adalah ibadah kita kepada-Nya. Wallohu a’lam bishowab.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Berikut contoh naskah pembawa acara (MC) untuk acara Tasmiyah (Aqiqah dan Pemberian Nama Bayi) dengan susunan yang umum digunakan:

MC: Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh. Alhamdulillahi rabbil ‘alamin, washalatu wasalamu ‘ala asyrafil anbiya-i wal mursalin, wa ‘ala alihi wa ashabihi ajma’in. Amma ba’du. Yang terhormat para alim ulama, tokoh masyarakat, serta seluruh tamu undangan yang dirahmati Allah. Pertama-tama, marilah kita panjatkan puji dan syukur ke hadirat Allah Subhanahu wa Ta’ala, yang telah memberikan nikmat dan hidayah-Nya sehingga kita dapat berkumpul dalam acara Tasmiyah (Aqiqah dan Pemberian Nama Bayi) dalam keadaan sehat wal afiat. Salawat serta salam semoga senantiasa tercurah kepada junjungan kita, Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam, beserta keluarga, sahabat, dan kita sebagai umatnya hingga akhir zaman. Hadirin yang berbahagia, Sebelum kita memulai acara, izinkan saya membacakan susunan acara pada hari ini: 1. Pembukaan 2. Pembacaan Ayat Suci Al-Qur'an 3. Kata Sambutan dari Tuan Rumah 4. Ceramah Singkat tentang Aqiqah dan Pemberian Nama 5. Pembacaan Doa 6. Makan Bersama 7. P...

CONTOH UNDANGAN SHALAT JENAZAH

_*UNDANGAN SHALAT JENAZAH *===========================* *إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَِـــــــــــيْهِ رَاجِـــــــــــعُون* *_TELAH MENINGGAL DUNIA SEORANG PEREMPUAN :_* *NAMA : .................* *UMUR : ...................*  *ALAMAT : ................)*  *KELUARGA : ..............* *MENINGGAL DUNIA : KAMIS, 13 RABIUL AWAL 1445 H / 28 SEPTEMBER 2023 M. JAM : 03.00 WITA.* *DI SHALATKAN PADA : KAMIS, 13 RABIUL AWAL 1445 H / 28 SEPTEMBER 2023 M.*  *WAKTU : BA'DA SHALAT MAGRIB.* *TEMPAT : RUANG INDUK MASJID * *DIMAKAMKAN : ALKAH KELUARGA, * *ATAS NAMA KELUARGA MENGUCAPKAN TERIMA KASIH IKUT MENSHALATKAN JENAZAH, MOHON MAAF ATAS KESALAHAN SEMASA HIDUP DAN BILA ADA TERKAIT HUTANG PIUTANG SEGERA HUBUNGI PIHAK KELUARGA* *اللهم اغفر لها، وارحمها وعافها، واعف عنها، ووسع مدخلها، واغسلها بالماء والثلج والبرد، ونقها من الخطايا كما ينقى الثوب الأبيض من الدنس، وأبدلها دارا خيرا من دارها، وأهلا خيرا من أهلها، وأدخلها الجنة، وقها فتنة القبر وعذاب النار* *جزا كم الله خيرا*

semanagat KERJANYA

Ibn Khaldun dalam Muqaddimah sudah menulis sebuah hukum sosial yang tragis: "Ketika negara masih kokoh, pajak sedikit namun hasilnya banyak. Tetapi ketika negara lemah, pajak diperbanyak, dan hasilnya justru semakin berkurang. Sebab rakyat tak lagi mampu menanggung beban." Ironinya, teori ini kini terbukti di depan mata. Pajak dinaikkan, subsidi dipangkas, pungutan diperluas, tetapi kesejahteraan rakyat tetap jalan di tempat. Sementara kelas istana justru semakin bugar dengan fasilitas, tunjangan, dan gaya hidup yang tak pernah mengenal kata hemat. Padahal, dalam tradisi fikih, prinsip penarikan pajak harus berlandaskan keadilan (al-‘adl fi at-taklīf). Imam al-Mawardi dalam al-Ahkām as-Sulthāniyyah menegaskan, harta rakyat tidak boleh dipungut kecuali dengan hak yang jelas dan untuk kemaslahatan yang nyata. Sebab itu, ‘Umar bin Khattab RA menolak menambah beban rakyat meskipun kas negara menipis, dengan kalimat yang tegas: "Aku tidak akan mempertemukan mereka...