Langsung ke konten utama

LAUTAN JAMAAH PADATI MARTAPURA HAUL GURU SEKUMPUL

Haul Guru Sekumpul merupakan peringatan wafat ulama kharismatik Kalimantan Selatan, ΚΗ Muhammad Zaini Abdul Ghani, yang setiap tahunnya dipusatkan di kawasan Sekumpul. Kegiatan religius ini menjadi salah satu perhelatan keagamaan terbesar di Indonesia karena mampu menarik jutaan jamaah dari berbagai daerah hingga mancanegara untuk mengikuti doa bersama, dzikir, dan mengenang keteladanan sang ulama yang dikenal dekat dengan masyarakat.

Puncak pelaksanaan haul biasanya berlangsung di Musholla Ar-Raudhah, tempat yang semasa hidup menjadi pusat dakwah Guru Sekumpul. Acara yang digelar setiap 5 Rajab tersebut diisi dengan pembacaan maulid, tahlil, dzikir, ceramah agama, hingga doa bersama. Sejak beberapa hari sebelum pelaksanaan, arus kendaraan menuju Martapura mulai dipadati jamaah yang datang untuk mengikuti rangkaian haul.

Lautan manusia yang memenuhi kawasan Sekumpul hingga ruas jalan utama menjadi pemandangan khas setiap tahunnya. Jamaah datang dari berbagai suku, daerah, dan profesi dengan tujuan yang sama, yakni menumbuhkan rasa cinta kepada ulama serta memperkuat nilai keimanan. Suasana religius yang penuh kekhusyukan dan kebersamaan pun terasa selama pelaksanaan haul berlangsung.

Tradisi Haul Guru Sekumpul juga dikenal sebagai momentum mempererat ukhuwah Islamiyah dan solidaritas sosial masyarakat Banjar. Warga sekitar secara sukarela membuka rumah mereka sebagai tempat singgah jamaah, menyediakan makanan dan minuman gratis, hingga membantu kebutuhan para tamu yang datang dari luar daerah. Semangat gotong royong tersebut menjadi ciri khas yang selalu melekat dalam pelaksanaan haul.

Selain itu, momen 5 Rajab juga identik dengan budaya berbagi yang luar biasa. Ribuan relawan menyediakan ratusan ribu porsi makanan dan minuman gratis di sepanjang jalan yang dilalui jamaah. Tidak hanya itu, tersedia pula penginapan gratis, layanan bus tanpa biaya, bengkel dan tambal ban gratis, hingga fasilitas kesehatan dan posko istirahat bagi para jamaah yang datang dari berbagai penjuru daerah.

Pemerintah daerah, aparat keamanan, relawan, dan berbagai komunitas turut terlibat dalam menjaga kelancaran kegiatan tahunan tersebut. Mereka bekerja sama mengatur lalu lintas, kebersihan, keamanan, serta pelayanan bagi jamaah agar pelaksanaan haul dapat berlangsung tertib dan nyaman di tengah jutaan orang yang memadati kawasan Martapura.

Bagi para jamaah, Haul Guru Sekumpul bukan sekadar tradisi peringatan wafat seorang ulama, melainkan sarana bertawasul, memperkuat keimanan, dan meneladani akhlak mulia Guru Sekumpul yang dikenal rendah hati, cinta ilmu, serta istiqamah dalam berdakwah. Hingga kini, haul tersebut tetap menjadi simbol kuat budaya religius masyarakat Kalimantan Selatan dan warisan budaya Islam yang memperlihatkan eratnya hubungan antara ulama dan umat di tanah Banjar.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Berikut contoh naskah pembawa acara (MC) untuk acara Tasmiyah (Aqiqah dan Pemberian Nama Bayi) dengan susunan yang umum digunakan:

MC: Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh. Alhamdulillahi rabbil ‘alamin, washalatu wasalamu ‘ala asyrafil anbiya-i wal mursalin, wa ‘ala alihi wa ashabihi ajma’in. Amma ba’du. Yang terhormat para alim ulama, tokoh masyarakat, serta seluruh tamu undangan yang dirahmati Allah. Pertama-tama, marilah kita panjatkan puji dan syukur ke hadirat Allah Subhanahu wa Ta’ala, yang telah memberikan nikmat dan hidayah-Nya sehingga kita dapat berkumpul dalam acara Tasmiyah (Aqiqah dan Pemberian Nama Bayi) dalam keadaan sehat wal afiat. Salawat serta salam semoga senantiasa tercurah kepada junjungan kita, Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam, beserta keluarga, sahabat, dan kita sebagai umatnya hingga akhir zaman. Hadirin yang berbahagia, Sebelum kita memulai acara, izinkan saya membacakan susunan acara pada hari ini: 1. Pembukaan 2. Pembacaan Ayat Suci Al-Qur'an 3. Kata Sambutan dari Tuan Rumah 4. Ceramah Singkat tentang Aqiqah dan Pemberian Nama 5. Pembacaan Doa 6. Makan Bersama 7. P...

CONTOH UNDANGAN SHALAT JENAZAH

_*UNDANGAN SHALAT JENAZAH *===========================* *إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَِـــــــــــيْهِ رَاجِـــــــــــعُون* *_TELAH MENINGGAL DUNIA SEORANG PEREMPUAN :_* *NAMA : .................* *UMUR : ...................*  *ALAMAT : ................)*  *KELUARGA : ..............* *MENINGGAL DUNIA : KAMIS, 13 RABIUL AWAL 1445 H / 28 SEPTEMBER 2023 M. JAM : 03.00 WITA.* *DI SHALATKAN PADA : KAMIS, 13 RABIUL AWAL 1445 H / 28 SEPTEMBER 2023 M.*  *WAKTU : BA'DA SHALAT MAGRIB.* *TEMPAT : RUANG INDUK MASJID * *DIMAKAMKAN : ALKAH KELUARGA, * *ATAS NAMA KELUARGA MENGUCAPKAN TERIMA KASIH IKUT MENSHALATKAN JENAZAH, MOHON MAAF ATAS KESALAHAN SEMASA HIDUP DAN BILA ADA TERKAIT HUTANG PIUTANG SEGERA HUBUNGI PIHAK KELUARGA* *اللهم اغفر لها، وارحمها وعافها، واعف عنها، ووسع مدخلها، واغسلها بالماء والثلج والبرد، ونقها من الخطايا كما ينقى الثوب الأبيض من الدنس، وأبدلها دارا خيرا من دارها، وأهلا خيرا من أهلها، وأدخلها الجنة، وقها فتنة القبر وعذاب النار* *جزا كم الله خيرا*

semanagat KERJANYA

Ibn Khaldun dalam Muqaddimah sudah menulis sebuah hukum sosial yang tragis: "Ketika negara masih kokoh, pajak sedikit namun hasilnya banyak. Tetapi ketika negara lemah, pajak diperbanyak, dan hasilnya justru semakin berkurang. Sebab rakyat tak lagi mampu menanggung beban." Ironinya, teori ini kini terbukti di depan mata. Pajak dinaikkan, subsidi dipangkas, pungutan diperluas, tetapi kesejahteraan rakyat tetap jalan di tempat. Sementara kelas istana justru semakin bugar dengan fasilitas, tunjangan, dan gaya hidup yang tak pernah mengenal kata hemat. Padahal, dalam tradisi fikih, prinsip penarikan pajak harus berlandaskan keadilan (al-‘adl fi at-taklīf). Imam al-Mawardi dalam al-Ahkām as-Sulthāniyyah menegaskan, harta rakyat tidak boleh dipungut kecuali dengan hak yang jelas dan untuk kemaslahatan yang nyata. Sebab itu, ‘Umar bin Khattab RA menolak menambah beban rakyat meskipun kas negara menipis, dengan kalimat yang tegas: "Aku tidak akan mempertemukan mereka...