Langsung ke konten utama

Teruslah berbuat baik

Pengajian KH. Ahmad Zuhdiannoor (Abah Guru Zuhdi), kitab syarah Hikam, 16 Jumadil Awal 1441
_____________________________ 
Berkata Sahl bin Abdullah: janganlah langsung mengambil keputusan akan sesuatu, baik urusan keduniaan apalagi urusan agama, kecuali didahului dengan musyawarah dengan alim 'ulama. Niscaya keputusan yg kan dijalankan kan menghasilkan hal yg dipuji.
Lalu Sahl ditanya, siapa 'ulama yg dimaksud?
Berkata beliau: yaitu 'ulama yg tidak menukar syurga beserta isinya dengan dunia, dan mereka senantiasa mengutamakan ridha Allah dibanding kepentingan pribadi.

Karena sesungguhnya, syurga dan isinya itu kekal abadi. Dunia ini ialah hancur dan kan terpisah.
'Ulama yg dimaksud diatas ialah 'ulama yg senantiasa berkata untuk akhirat, berfatwa untuk akhirat, berpendapat untuk akhirat dan kemaslahatan umat.

Modal agar kita semua selamat, ialah jangan menjual diri kepada dunia. 
Karena orang yg beriman telah Allah beli dirinya dengan seharga syurga dn isinya, maka janganlah kita jual diri kita kepada dunia, kepada kesenangan dunia atau sebagainya. Hendaklah lebih pilih akhirat, dibanding dunia.

Teruslah berbuat baik, berbuat baik dan berbuat baik, niatan kita dalam mengerja semua itu ialah ingin syurga dan isinya, bukan keduniaan, bukan pujian, bukan harta, atau sebagainya.

Utamakanlah menerima dan senang dengan setiap pemberian Allah, pandanglah dengan pandangan hikmat.

Umumnya Kita ingin sehat, namun Allah memberi sakit, maka yakinlah bahwa pasti, pasti dan pasti dalam sakit ini penuh hikmat kebaikan.
Umumnya kita ingin kaya, namun saat Allah tak memberi kaya, maka yakinlah bahwa pasti, pasti dan pasti dalam miskin ini penuh hikmat kebaikan.

Maka insyaAllah orang ini takkan memaksakan kehendak pribadi, namun orang ini kan senantiasa mengutamakan ridha Allah.

Awal perjalanan kita, ialah berusaha mengalahkan kepentingan pribadi, demi mengutamakan kesenangan dan ridha Allah ta'ala.
Inilah nanti yg kan menimbulkan akhlak senantiasa memikirkan kebahagiaan dan kesenangan orang lain, orang inilah yg kan mampu mengalah demi kepentingan serta kesenangan orang lain.

Berkata sayyidina Umar bin Khattab: Jika kau bingung ataupun tak bingung, maka bermusyawarahlah dalam mengambil suatu putusan (yaitu dengan para 'ulama)

Seseorang yg senantiasa peduli dengan orang lain, bisa jadi dengan cepat diangkat Allah menjadi wali.

Satu cerita, Hatim al Asham, diangkat jadi wali sebab karena menutupi aib orang lain, binian kentut pasti supan, datang ke tuan guru, lalu tekantut, jadi waktu betakun binian tadi kepada sidin, sidin pura" tidak mendengar ucapan itu, maka binian tadi senang karena merasa Hatim al Asham tadi tidak mendengar. Hatam al Asham menutupi aib binian tersebut, saat hatinya gembira, beliau meusahakan orang lain senang dn gembira, menjadi sebab beliau diangkat menjadi wali Allah swt.,

Teruslah peduli kepada semua makhluk, karena pada saatnya tiba nanti, balasan Allah kan nampak akan semua itu.
Misal: amal yg sedikit, dibalas dengan pahala yg berlipat. Memberi minum anjing, mendapat keampunan. Memberi minum lalat, mendapat ridha Allah, dan sebagainya.
Peduli kita itu sangatlah besar balasannya, dikarenakan kita menghargai dan peduli terhadap kekasih Allah.
Karena, semua makhluk ini bahan bakunya ialah Nur Nabi Muhammad saw, beliaulah kekasih Allah, beliaulah sebenar hamba Allah.

Pernah Nabi bercerita, dahulu ada seorang perempuan yg suka bermaksiat, sehingga sampai dia disuatu jalan yg saat itu habis bekalny. 
Lalu dia melihat sumur dan turun ke Dalamnya untuk mengambil minum, maka saat naik kembali, dia melihat seekor anjing yg kehausan, maka diapun kembali turun kedalam sumur untuk mengambilkan minum untuk anjing tersebut sampai anjing itu hilang dahaga.
Maka nabi mengatakan bahwa wanita tersebut diampuni oleh Allah dan mendapat kemuliaan

Orang yang paling peduli dan sayang kepada makhluk, ialah orang yg senantiasa mengutamakan ridha Allah dibanding kepentingan diri.
Karena mereka punya sifat tak berani mempermasalahkan pemberian Allah, maka mereka senantiasa yakin bahwa pasti pasti pasti semua pemberian Allah mengandung hikmat kebaikan.

Coba liat org beurut, pdhal sakit klo beurut tuh, tpi knpa jdi mhakuni, krena kita tahu bhwa kna mun bis beurut neh ampih sakit di awak kita, krena kita tahu bhwa beurut ini walau awalnya sakit, tapi akan mengurangi atau mnyembuhkan sakit di awak kita. Bahkan bis diurut tukang urut, kita bari pulang inya duit, padahal bis menyakiti kita neh (dzahirnya), kita baterima kasih karena kita tau tujuan tukang urut tuh ialah baik untuk kita, untuk menyembuhkan kita. 
Sama lwn kita neh disaat dapat bala (miskin, sakit, dihina, dsb), itu umpama Allah meurutkan sakit di awak kita, tujuan diurut ialah supaya ampih sakit, kita neh banyak tasilahu dosa, Allah uruti akan, maulah kada menerima. Baterima kasih kita seharusnya, karena itu tuntut ilmu supaya bisa merasakan ini nah.
kakanakan tuh inya kd hendak diurut, bahkan meliat rumah tukang urut ja tekutan, karena kakanakan tuh kada paham, kada mengerti. 

Catatan: 
- niat kawin: 
1. Menjaga diri
2. Banyakkan umatnya Nabi

- pesan Abah Guru: jangan pernah merasa 'alim, jangankan jadi tuan guru, jadi murid pun belum benar.
______________________________

۞اللهم صل على سيدنا محمد وعلى آل سيدنا محمد۞
Mudahan berkah dunia akhirat, minta rela ulun kalau ada salah khilaf
Full video: https://youtu.be/mK4cMHpOi60 (Majta Live) 
Catatan pribadi RF

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Berikut contoh naskah pembawa acara (MC) untuk acara Tasmiyah (Aqiqah dan Pemberian Nama Bayi) dengan susunan yang umum digunakan:

MC: Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh. Alhamdulillahi rabbil ‘alamin, washalatu wasalamu ‘ala asyrafil anbiya-i wal mursalin, wa ‘ala alihi wa ashabihi ajma’in. Amma ba’du. Yang terhormat para alim ulama, tokoh masyarakat, serta seluruh tamu undangan yang dirahmati Allah. Pertama-tama, marilah kita panjatkan puji dan syukur ke hadirat Allah Subhanahu wa Ta’ala, yang telah memberikan nikmat dan hidayah-Nya sehingga kita dapat berkumpul dalam acara Tasmiyah (Aqiqah dan Pemberian Nama Bayi) dalam keadaan sehat wal afiat. Salawat serta salam semoga senantiasa tercurah kepada junjungan kita, Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam, beserta keluarga, sahabat, dan kita sebagai umatnya hingga akhir zaman. Hadirin yang berbahagia, Sebelum kita memulai acara, izinkan saya membacakan susunan acara pada hari ini: 1. Pembukaan 2. Pembacaan Ayat Suci Al-Qur'an 3. Kata Sambutan dari Tuan Rumah 4. Ceramah Singkat tentang Aqiqah dan Pemberian Nama 5. Pembacaan Doa 6. Makan Bersama 7. P...

CONTOH UNDANGAN SHALAT JENAZAH

_*UNDANGAN SHALAT JENAZAH *===========================* *إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَِـــــــــــيْهِ رَاجِـــــــــــعُون* *_TELAH MENINGGAL DUNIA SEORANG PEREMPUAN :_* *NAMA : .................* *UMUR : ...................*  *ALAMAT : ................)*  *KELUARGA : ..............* *MENINGGAL DUNIA : KAMIS, 13 RABIUL AWAL 1445 H / 28 SEPTEMBER 2023 M. JAM : 03.00 WITA.* *DI SHALATKAN PADA : KAMIS, 13 RABIUL AWAL 1445 H / 28 SEPTEMBER 2023 M.*  *WAKTU : BA'DA SHALAT MAGRIB.* *TEMPAT : RUANG INDUK MASJID * *DIMAKAMKAN : ALKAH KELUARGA, * *ATAS NAMA KELUARGA MENGUCAPKAN TERIMA KASIH IKUT MENSHALATKAN JENAZAH, MOHON MAAF ATAS KESALAHAN SEMASA HIDUP DAN BILA ADA TERKAIT HUTANG PIUTANG SEGERA HUBUNGI PIHAK KELUARGA* *اللهم اغفر لها، وارحمها وعافها، واعف عنها، ووسع مدخلها، واغسلها بالماء والثلج والبرد، ونقها من الخطايا كما ينقى الثوب الأبيض من الدنس، وأبدلها دارا خيرا من دارها، وأهلا خيرا من أهلها، وأدخلها الجنة، وقها فتنة القبر وعذاب النار* *جزا كم الله خيرا*

semanagat KERJANYA

Ibn Khaldun dalam Muqaddimah sudah menulis sebuah hukum sosial yang tragis: "Ketika negara masih kokoh, pajak sedikit namun hasilnya banyak. Tetapi ketika negara lemah, pajak diperbanyak, dan hasilnya justru semakin berkurang. Sebab rakyat tak lagi mampu menanggung beban." Ironinya, teori ini kini terbukti di depan mata. Pajak dinaikkan, subsidi dipangkas, pungutan diperluas, tetapi kesejahteraan rakyat tetap jalan di tempat. Sementara kelas istana justru semakin bugar dengan fasilitas, tunjangan, dan gaya hidup yang tak pernah mengenal kata hemat. Padahal, dalam tradisi fikih, prinsip penarikan pajak harus berlandaskan keadilan (al-‘adl fi at-taklīf). Imam al-Mawardi dalam al-Ahkām as-Sulthāniyyah menegaskan, harta rakyat tidak boleh dipungut kecuali dengan hak yang jelas dan untuk kemaslahatan yang nyata. Sebab itu, ‘Umar bin Khattab RA menolak menambah beban rakyat meskipun kas negara menipis, dengan kalimat yang tegas: "Aku tidak akan mempertemukan mereka...