Langsung ke konten utama

Bagaikan hujan menyemburkan tanaman

Khutbah Pertama:

إنَّ الحمد لله ؛ نحمده ونستعينه ونستغفره ونتوب إليه ، ونعوذ بالله من شرور أنفسنا وسيئات أعمالنا ؛ من يهده الله فلا مضلَّ له ، ومن يُضلل فلا هادي له ، وأشهد أن لا إله إلا اللهُ وحده لا شريك له ، وأشهد أن محمدًا عبده ورسوله ، بلَّغ الرسالة ، وأدَّى الأمانة ، ونصح الأمة ، وجاهد في الله حق جهاده حتى أتاه اليقين ، فما ترك خيرًا إلا دلَّ الأمة عليه ، ولا شرًا إلا حذرها منه ؛ فصلوات الله وسلامه عليه وعلى آله وصحبه أجمعين .

أمَّا بعد أيها المؤمنون : اتقوا الله تعالى ، {يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا اتَّقُوا اللَّهَ وَقُولُوا قَوْلًا سَدِيدًا (70) يُصْلِحْ لَكُمْ أَعْمَالَكُمْ وَيَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَرَسُولَهُ فَقَدْ فَازَ فَوْزًا عَظِيمًا}.

Ayyuhal mukminun,

Ada hujan yang mengguyur badan da nada juga hujan yang menyirami hati. Sebuah persamaan yang mirip, memudahkan kita merenungkan dan mentadabburi, memahami dan mengerti. Allah Tabarak wa Ta’ala berfirman,

أَلَمْ يَأْنِ لِلَّذِينَ آمَنُوا أَنْ تَخْشَعَ قُلُوبُهُمْ لِذِكْرِ اللَّهِ وَمَا نَزَلَ مِنَ الْحَقِّ وَلَا يَكُونُوا كَالَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ مِنْ قَبْلُ فَطَالَ عَلَيْهِمُ الْأَمَدُ فَقَسَتْ قُلُوبُهُمْ وَكَثِيرٌ مِنْهُمْ فَاسِقُونَ (16) اعْلَمُوا أَنَّ اللَّهَ يُحْيِ الْأَرْضَ بَعْدَ مَوْتِهَا قَدْ بَيَّنَّا لَكُمُ الْآيَاتِ لَعَلَّكُمْ تَعْقِلُونَ

“Belumkah datang waktunya bagi orang-orang yang beriman, untuk tunduk hati mereka mengingat Allah dan kepada kebenaran yang telah turun (kepada mereka), dan janganlah mereka seperti orang-orang yang sebelumnya telah diturunkan Al Kitab kepadanya, kemudian berlalulah masa yang panjang atas mereka lalu hati mereka menjadi keras. Dan kebanyakan di antara mereka adalah orang-orang yang fasik. Ketahuilah olehmu bahwa sesungguhnya Allah menghidupkan bumi sesudah matinya. Sesungguhnya Kami telah menjelaskan kepadamu tanda-tanda kebesaran (Kami) supaya kamu memikirkannya.” (QS:Al-Hadiid | Ayat: 16-17).

Ibadallah,

Ketika Anda melihat bumi yang tandus, tidak ada tanaman, tidak ada rerumputan, dan tidak ada orang menggembala padanya. Kemudian Allah turunkan hujan. Tiba-tiba tumbuhlah tetumbuhan yang hijau. Air ini mengubah bumi yang tandaus dan kering itu menjadi hijau. Demikianlah keadaan hati manusia. Kebutuhan hati terhadap wahyu Allah yang Dia turunkan melalui Nabi-Nya Muhammad ﷺ.  Kebutuhan hati terhdap wahyu sama seperti kebutuhan tanah yang kering dan tandus terhadap air hujan. Bumi yang tandus tidak akan hidup tanpa air. Dan sesungguhnya hati juga tidak akan hidup tanpa adanya wahyu yang turun dari Allah.

Ayyuhal mukminun,

Jika kedudukan wahyu bagi hati seperti kedudukan hujan bagi tanah tandus, lalu bagaimana keadaan manusia terhadap wahyu tersebut? Apa usaha mereka terhadap wahyu? Sejauh mana mereka mengambil manfaat dari wahyu yang diturunkan Allah ini? Jika Anda ingin mengetahui hal itu, perhatikanlah dengan perenungan saat bumi terbasahi dengan air hujan. Bagaimana Anda melihat hal itu.

Sesungguhnya orang-orang yang merenungkan keadaan bumi setelah diturunkan hujan, ia tidak akan hanya mendapatkan satu pelajaran saja. tapi ia mendapatkan beragam hikmah. Sebagaimana bumi yang tandus apabila diguyur air hujan ia tidak hanya memiliki satu manfaat saja dari hujan itu. bumi tersebut merasakan banyak kebaikan. Demikian juga dengan hati apabila disirami dengan wahyu. Ia akan mendapatkan banyak manfaat. Bahkan terus bertambah.

عَنْ أَبِي مُوسَى الأشعري رضي الله عنه أنَّ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: ((إِنَّ مَثَلَ مَا بَعَثَنِيَ اللهُ بِهِ مِنَ الْهُدَى وَالْعِلْمِ كَمَثَلِ غَيْثٍ أَصَابَ أَرْضًا، فَكَانَتْ مِنْهَا طَائِفَةٌ طَيِّبَةٌ قَبِلَتِ الْمَاءَ فَأَنْبَتَتِ الْكَلَأَ وَالْعُشْبَ الْكَثِيرَ ، وَكَانَ مِنْهَا أَجَادِبُ أَمْسَكَتِ الْمَاءَ فَنَفَعَ اللهُ بِهَا النَّاسَ فَشَرِبُوا مِنْهَا وَسَقَوْا وَرَعَوْا ، وَأَصَابَ طَائِفَةً مِنْهَا أُخْرَى، إِنَّمَا هِيَ قِيعَانٌ لَا تُمْسِكُ مَاءً وَلَا تُنْبِتُ كَلَأً ، فَذَلِكَ مَثَلُ مَنْ فَقُهَ فِي دِينِ اللهِ وَنَفَعَهُ بِمَا بَعَثَنِيَ اللهُ بِهِ، فَعَلِمَ وَعَلَّمَ، وَمَثَلُ مَنْ لَمْ يَرْفَعْ بِذَلِكَ رَأْسًا وَلَمْ يَقْبَلْ هُدَى اللهِ الَّذِي أُرْسِلْتُ بِهِ)) .

“Permisalan petunjuk dan ilmu yang Allah mengutusku dengannya adalah bagai ghaits (hujan yang bermanfaat) yang mengenai tanah. Maka ada tanah yang baik, yang bisa menyerap air sehingga menumbuhkan tumbuh-tumbuhan dan rerumputan yang banyak. Di antaranya juga ada tanah yang ajadib (tanah yang bisa menampung air, namun tidak bisa menyerap ke dalamnya), maka dengan genangan air tersebut Allah memberi manfaat untuk banyak orang, sehingga manusia dapat mengambil air minum dari tanah ini. Lalu manusia dapat memberi minum untuk hewan ternaknya, dan manusia dapat mengairi tanah pertaniannya. Jenis tanah ketiga adalah  tanah qi’an (tanah yang tidak bisa menampung dan tidak bisa menyerap air). Inilah permisalan orang yang memahami agama Allah, bermanfaat baginya ajaran yang Allah mengutusku untuk membawanya. Dia mengetahui ajaran Allah dan dia mengajarkan kepada orang lain. Dan demikianlah orang yang tidak mengangkat kepalanya terhadap wahyu, dia tidak mau menerima petunjuk yang Allah mengutusku untuk membawanya.” (HR. al-Bukhari dan Muslim).

Ayyuhal ibad,

Betapa butuhnya kita untuk selalu merenungi keadaannya. Seseorang hendaknya merenungi keadaannya dengan berkaca pada perumpamaan hujan ini. karena inilah permisalan yang diberikan oleh Nabi ﷺ. Dengan hal itu seseorang dapat memahami dengan pemahaman yang mendalam. Kita melihat dengan mata kita dan merenunginya dengan mata hati kita ketika hujan turun membasahi bumi. Bagaimana keadaan tanah berbeda-beda dalam menerima hujan. Demikian juga dengan manusia dalam hubungannya dengan wahyu. Mereka pun terbagi-bagi keadaannya. Keadaan manusia dengan wahyu sama persis dengan keadaan bumi dengan hujan.

Ayyuhal mukminun,

Ada manusia yang Allah ﷻ beri taufik dan tolong dalam memahami wahyu, merenungi, dan mengambil hokum-hukumnya. Mereka menerima ilmu dan mengamalkannya. Mereka menghafal kalam Allah ﷻ dan kalam Rasulullah ﷺ kemudian memahaminya dengan pemahaman yang baik. Mentadabburi makna-maknanya dan mengkaji hukum-hukumnya. Mereka inilah orang-orang yang mendalam keilmuannya dan baik penjagaannya terhadap agama Allah ﷻ.

Kelompok ini Allah muliakan karena mereka memiliki perhatian yang besar terhadap Alquran dan sunnah. Mereka menghafal. Menghabiskan waktu yang banyak untuk mengingat dan memantabkannya. Mereka dalam kebaikan yang besar dan karunia yang utama.  Dan kelompok kedua adalah mereka yang mendengarkan wahyu tersebut, mereka memahaminya sebagaimana yang disampaikan. Mereka inilah orang yang disabdakan oleh Nabi kita Muhammad ﷺ,

نَضَّرَ اللَّهُ امْرَأً سَمِعَ مَقَالَتِي فَحَفِظَهَا فَبَلَّغَهَا إِلَى مَنْ هُوَ أَوْعَى مِنْهُ ، فَرُبَّ حَامِلِ فِقْهٍ غَيْرِ فَقِيهٍ، وَرُبَّ حَامِلِ فِقْهٍ إِلَى مَنْ هُوَ أَفْقَهُ مِنْهُ

“Semoga Allah memberikan nudhrah (cahaya di wajah) kepada orang yang mendengarkan sabdaku lalu ia memahaminya, menghafalnya, dan menyampaikannya. Berapa banyak orang yang membawa ilmu agama kepada orang yang lebih paham darinya.”

Dua kelompok ini adalah kelompok yang berbahagia.

Sedangkan kelompok yang ketiga adalah kelompok yang terhalang dari kebaikan ini. Mereka seperti tanah liat yang licin. Tidak menahan air dan tidak bermanfaat bagi tumbuhan. Mereka inilah orang-orang yang tidak menaruh perhatian terhadap wahyu. Hari-hari dan waktunya berlalu tanpa ia dapat memetik manfaat dari wahyu. Tidak berilmu dan tidak beramal dengan wahyu itu. Inilah orang-orang yang rugi. Semoga Allah melindungi kita semua.

أيها المؤمنون : نسأل الله عز وجل بأسمائه الحسنى وصفاته العليا وبأنه الله الذي لا إله إلا هو أن يغيث قلوبنا بالإيمان وديارنا بالمطر . أقول هذا القول وأستغفر الله لي ولكم ولسائر المسلمين من كل ذنب فاستغفروه يغفر لكم إنه هو الغفور الرحيم .

Khutbah Kedua:

الحمد لله كثيرًا ، وأشهد أن لا إله إلا اللهُ وحده لا شريك له ، وأشهد أنَّ محمداً عبده ورسوله ؛ صلى الله وسلَّم عليه وعلى آله وصحبه أجمعين . أما بعد أيها المؤمنون : اتقوا الله تعالى .

Ayyuhal mukminun,

Sungguh Nabi kita Muhammad ﷺ dalam banyak khutbah dan nasihat beliau, mengulang-ulang menyampaikan:

أَمَّا بَعْدُ، فَإِنَّ خَيْرَ الْحَدِيثِ كِتَابُ اللهِ، وَخَيْرُ الْهُدَى هُدَى مُحَمَّدٍ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ، وَشَرُّ الْأُمُورِ مُحْدَثَاتُهَا، وَكُلُّ بِدْعَةٍ ضَلَالَةٌ

“Sesungguhnya sebaik-baik perkataan adalah Kitabullah dan sebaik-baik petunjuk adalah petunjuk Muhammad ﷺ. Seburuk-buruk perkara adalah yang sesuatu yang dibuat-buat dalam agama ini. dan setiap bid’ah adalah kesesatan.”

Beliau ﷺ senantiasa mengulang-ulangi kalimat ini di tengah khalayak. Tujuannya agar manusia paham bahwa hakikat kebahagiaan hanyalah dengan wahyu Allah ﷻ. Berpegang teguh dengannya. Dan menjaganya. Dan hal yang sangat berbahaya adalah jauh dari hal ini. berbuat kebid’ahan. Membuat suatu tata cara ibadah yang menyesatkan manusia dari jalan yang lurus.

Oleh karena itu ibadallah, wajib bagi setiap muslim untuk senantiasa berpegang pada kitabullah dan sunnah Rasulullah ﷺ. Menjauhkan diri dari perbuatan bid’ah dalam berbagai bentuknya. Walaupun tujuan dari bid’ah tersebut adalah baik. Karena tujuan yang baik tidak memberi manfaat kepada pelakunya apabila amalannya tidak sesuai syariat Allah. nabi ﷺ telah menjelaskan hal ini dalam sabda beliau:

مَنْ عَمِلَ عَمَلًا لَيْسَ عَلَيْهِ أَمْرُنَا فَهُوَ رَدّ

“Barangsiapa yang beramal dengan suatu amalan yang tidak ada tuntutnannya dari kami, maka ia tertolak.”

واعلموا -رعاكم الله- أن الكيِّس من عباد الله من دان نفسه وعمل لما بعد الموت ، والعاجز من أتبع نفسه هواها وتمنى على الله الأماني . وصلُّوا وسلِّموا -رعاكم الله- على محمد بن عبد الله كما أمركم الله بذلك في كتابه فقال : {إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا} ، وقال صلى الله عليه وسلم: ((مَنْ صَلَّى عَلَيَّ صَلَاةً صَلَّى الله عَلَيْهِ بِهَا عَشْرًا)) .

اللهم صلِّ على محمدٍ وعلى آل محمد كما صلَّيت على إبراهيم وعلى آل إبراهيم إنَّك حميدٌ مجيد ، وبارك على محمدٍ وعلى آل محمد كما باركت على إبراهيم وعلى آل إبراهيم إنَّك حميدٌ مجيد . وارضَ اللهمَّ عن الخلفاء الراشدين ؛ أبى بكرٍ وعمرَ وعثمانَ وعلي ، وارضَ اللهمَّ عن الصحابة أجمعين ، وعن التابعين ومن تبعهم بإحسانٍ إلى يوم الدين ، وعنَّا معهم بمنِّك وكرمك وإحسانك يا أكرم الأكرمين .

اللهم أعزَّ الإسلام والمسلمين ، اللهم انصر دينك وكتابك وسنة نبيك محمد صلى الله عليه وسلم ، اللهم انصر إخواننا المسلمين المستضعفين في كل مكان ، اللهم كُن لهم ناصرًا ومُعينا وحافظًا ومؤيدا يا حي يا قيوم يا ذا الجلال والإكرام . اللهم آمِنَّا في أوطاننا ، وأصلح أئمتنا وولاة أمورنا ، واجعل ولايتنا فيمن خافك واتقاك واتبع رضاك يا رب العالمين. اللهم وفِّق ولي أمرنا لهداك ، وأعِنه على طاعتك ، وسدِّده في أقواله وأعماله يا حي يا قيوم يا ذا الجلال والإكرام .

اللهم أعنَّا ولا تُعن علينا ، وانصرنا ولا تنصر علينا ، وامكر لنا ولا تمكر علينا ، واهدنا ويسِّر الهدى لنا ، وانصرنا على من بغى علينا ، اللهم اجعلنا لك ذاكرين لك شاكرين ، إليك أواهين منيبين ، لك مخبتين لك مطيعين ، اللهم تقبل توبتنا واغسل حوبتنا ، وثبِّت حجتنا ، واهد قلوبنا ، وسدِّد ألسنتنا ، واسلل سخيمة صدورنا . اللهم اغفر لنا ولوالدينا وللمسلمين والمسلمات والمؤمنين والمؤمنات الأحياء منهم والأموات . ربنا آتنا في الدنيا حسنة وفي الآخرة حسنة وقنا عذاب النار .

سبحان ربك رب العزة عما يصفون ، وسلام على المرسلين ، والحمد لله رب العالمين .

Oleh tim KhotbahJumat.com
Artikel www.KhotbahJumat.com

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Berikut contoh naskah pembawa acara (MC) untuk acara Tasmiyah (Aqiqah dan Pemberian Nama Bayi) dengan susunan yang umum digunakan:

MC: Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh. Alhamdulillahi rabbil ‘alamin, washalatu wasalamu ‘ala asyrafil anbiya-i wal mursalin, wa ‘ala alihi wa ashabihi ajma’in. Amma ba’du. Yang terhormat para alim ulama, tokoh masyarakat, serta seluruh tamu undangan yang dirahmati Allah. Pertama-tama, marilah kita panjatkan puji dan syukur ke hadirat Allah Subhanahu wa Ta’ala, yang telah memberikan nikmat dan hidayah-Nya sehingga kita dapat berkumpul dalam acara Tasmiyah (Aqiqah dan Pemberian Nama Bayi) dalam keadaan sehat wal afiat. Salawat serta salam semoga senantiasa tercurah kepada junjungan kita, Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam, beserta keluarga, sahabat, dan kita sebagai umatnya hingga akhir zaman. Hadirin yang berbahagia, Sebelum kita memulai acara, izinkan saya membacakan susunan acara pada hari ini: 1. Pembukaan 2. Pembacaan Ayat Suci Al-Qur'an 3. Kata Sambutan dari Tuan Rumah 4. Ceramah Singkat tentang Aqiqah dan Pemberian Nama 5. Pembacaan Doa 6. Makan Bersama 7. P...

CONTOH UNDANGAN SHALAT JENAZAH

_*UNDANGAN SHALAT JENAZAH *===========================* *إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَِـــــــــــيْهِ رَاجِـــــــــــعُون* *_TELAH MENINGGAL DUNIA SEORANG PEREMPUAN :_* *NAMA : .................* *UMUR : ...................*  *ALAMAT : ................)*  *KELUARGA : ..............* *MENINGGAL DUNIA : KAMIS, 13 RABIUL AWAL 1445 H / 28 SEPTEMBER 2023 M. JAM : 03.00 WITA.* *DI SHALATKAN PADA : KAMIS, 13 RABIUL AWAL 1445 H / 28 SEPTEMBER 2023 M.*  *WAKTU : BA'DA SHALAT MAGRIB.* *TEMPAT : RUANG INDUK MASJID * *DIMAKAMKAN : ALKAH KELUARGA, * *ATAS NAMA KELUARGA MENGUCAPKAN TERIMA KASIH IKUT MENSHALATKAN JENAZAH, MOHON MAAF ATAS KESALAHAN SEMASA HIDUP DAN BILA ADA TERKAIT HUTANG PIUTANG SEGERA HUBUNGI PIHAK KELUARGA* *اللهم اغفر لها، وارحمها وعافها، واعف عنها، ووسع مدخلها، واغسلها بالماء والثلج والبرد، ونقها من الخطايا كما ينقى الثوب الأبيض من الدنس، وأبدلها دارا خيرا من دارها، وأهلا خيرا من أهلها، وأدخلها الجنة، وقها فتنة القبر وعذاب النار* *جزا كم الله خيرا*

semanagat KERJANYA

Ibn Khaldun dalam Muqaddimah sudah menulis sebuah hukum sosial yang tragis: "Ketika negara masih kokoh, pajak sedikit namun hasilnya banyak. Tetapi ketika negara lemah, pajak diperbanyak, dan hasilnya justru semakin berkurang. Sebab rakyat tak lagi mampu menanggung beban." Ironinya, teori ini kini terbukti di depan mata. Pajak dinaikkan, subsidi dipangkas, pungutan diperluas, tetapi kesejahteraan rakyat tetap jalan di tempat. Sementara kelas istana justru semakin bugar dengan fasilitas, tunjangan, dan gaya hidup yang tak pernah mengenal kata hemat. Padahal, dalam tradisi fikih, prinsip penarikan pajak harus berlandaskan keadilan (al-‘adl fi at-taklīf). Imam al-Mawardi dalam al-Ahkām as-Sulthāniyyah menegaskan, harta rakyat tidak boleh dipungut kecuali dengan hak yang jelas dan untuk kemaslahatan yang nyata. Sebab itu, ‘Umar bin Khattab RA menolak menambah beban rakyat meskipun kas negara menipis, dengan kalimat yang tegas: "Aku tidak akan mempertemukan mereka...