Langsung ke konten utama

Beriman Dengan Al-Qadar (Ketetapan Allah)*


   Artinya: Membenarkan bahwasanya Allah SWT telah menetapkan sesuatu kebaikan dan keburukan itu sejak azali lagi sebelum semua makhluk diciptakan. Maka tidak akan mendapat daripada kebaikan dan keburukan, manfaat atau mudarat melainkan dengan qada' dan qadar serta kehendak dan ketentuan dari-Nya. Apa jua yang dikehendaki-Nya berlaku pasti akan berlaku. Dan apa yang tidak Allah kehendaki untuk terjadi maka tidak akan terjadi.

   Firman Allah SWT:

*إِنَّا كُلَّ شَيْءٍ خَلَقْنَاهُ بِقَدَرٍ*

   _"Sesungguhnya Kami menciptakan tiap-tiap sesuatu menurut takdir (yang telah ditentukan)."_ (QS. Al-Qamar: 49)

   Sesungguhnya Allah SWT yang menjadikan makhluk-makhluk-Nya ini serta amal perbuatan mereka. Dia jugalah yang menetapkan segala rezeki dan kematian mereka dengan anugerah dan karuniaan-Nya semata-mata.

   Maka seluruh perbuatan hamba-hamba sama ada berlaku secara pilihan atau keterpaksaan, adalah ciptaan Allah SWT. Akan tetapi, setiap hamba itu mempunyai satu bentuk pilihan untuk melakukan sesuatu perkara itu atau meninggalkannya. Ianya dikenali sebagai _al-kasb_ (usaha). Dengan inilah adanya taklif dan berlakunya pahala atau balasan azab.

   Adapun maksiat itu maka tidak boleh ridha dengannya karena Allah tidak meridhainya, dan ia adalah sebagian dari perkara yang ditentukan (oleh individu itu sendiri). Dan perkara yang ditentukan bukanlah ketentuan (Allah).

   Firman Allah SWT:

*وَلَا يَرْضَىٰ لِعِبَادِهِ ٱلْكُفْرَ*

   _"Dan Allah tidak meridhai bagi hamba-hamba-Nya akan kekufuran."_ (QS. Az-Zumar: 7)

   Sesungguhnya Allah SWT akan memberi pahala kepada mereka yang dikehendaki-Nya atas ketaatan mereka dengan karuniaan-Nya dan mengazab mereka yang dikehendaki-Nya atas kemaksiatan mereka dengan keadilan-Nya. Tidak wajib sesuatu pun ke atas Allah kepada mereka dan jangan dipersoalkan tentang semua ketentuan-Nya.

*ﻭَٱللّٰهُ أَﻋْﻠَﻢُ بِٱﻟﺼَّﻮَٱﺏِ*
.
[ _Hidayah At-Tholibin Fi Bayan Muhimmat Ad-Din_ lil Al-'Allamah Al-Muhaqqiq Ad-Da'illallah Al-Habib Zain bin Ibrahim bin Smith ]

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Berikut contoh naskah pembawa acara (MC) untuk acara Tasmiyah (Aqiqah dan Pemberian Nama Bayi) dengan susunan yang umum digunakan:

MC: Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh. Alhamdulillahi rabbil ‘alamin, washalatu wasalamu ‘ala asyrafil anbiya-i wal mursalin, wa ‘ala alihi wa ashabihi ajma’in. Amma ba’du. Yang terhormat para alim ulama, tokoh masyarakat, serta seluruh tamu undangan yang dirahmati Allah. Pertama-tama, marilah kita panjatkan puji dan syukur ke hadirat Allah Subhanahu wa Ta’ala, yang telah memberikan nikmat dan hidayah-Nya sehingga kita dapat berkumpul dalam acara Tasmiyah (Aqiqah dan Pemberian Nama Bayi) dalam keadaan sehat wal afiat. Salawat serta salam semoga senantiasa tercurah kepada junjungan kita, Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam, beserta keluarga, sahabat, dan kita sebagai umatnya hingga akhir zaman. Hadirin yang berbahagia, Sebelum kita memulai acara, izinkan saya membacakan susunan acara pada hari ini: 1. Pembukaan 2. Pembacaan Ayat Suci Al-Qur'an 3. Kata Sambutan dari Tuan Rumah 4. Ceramah Singkat tentang Aqiqah dan Pemberian Nama 5. Pembacaan Doa 6. Makan Bersama 7. P...

CONTOH UNDANGAN SHALAT JENAZAH

_*UNDANGAN SHALAT JENAZAH *===========================* *إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَِـــــــــــيْهِ رَاجِـــــــــــعُون* *_TELAH MENINGGAL DUNIA SEORANG PEREMPUAN :_* *NAMA : .................* *UMUR : ...................*  *ALAMAT : ................)*  *KELUARGA : ..............* *MENINGGAL DUNIA : KAMIS, 13 RABIUL AWAL 1445 H / 28 SEPTEMBER 2023 M. JAM : 03.00 WITA.* *DI SHALATKAN PADA : KAMIS, 13 RABIUL AWAL 1445 H / 28 SEPTEMBER 2023 M.*  *WAKTU : BA'DA SHALAT MAGRIB.* *TEMPAT : RUANG INDUK MASJID * *DIMAKAMKAN : ALKAH KELUARGA, * *ATAS NAMA KELUARGA MENGUCAPKAN TERIMA KASIH IKUT MENSHALATKAN JENAZAH, MOHON MAAF ATAS KESALAHAN SEMASA HIDUP DAN BILA ADA TERKAIT HUTANG PIUTANG SEGERA HUBUNGI PIHAK KELUARGA* *اللهم اغفر لها، وارحمها وعافها، واعف عنها، ووسع مدخلها، واغسلها بالماء والثلج والبرد، ونقها من الخطايا كما ينقى الثوب الأبيض من الدنس، وأبدلها دارا خيرا من دارها، وأهلا خيرا من أهلها، وأدخلها الجنة، وقها فتنة القبر وعذاب النار* *جزا كم الله خيرا*

semanagat KERJANYA

Ibn Khaldun dalam Muqaddimah sudah menulis sebuah hukum sosial yang tragis: "Ketika negara masih kokoh, pajak sedikit namun hasilnya banyak. Tetapi ketika negara lemah, pajak diperbanyak, dan hasilnya justru semakin berkurang. Sebab rakyat tak lagi mampu menanggung beban." Ironinya, teori ini kini terbukti di depan mata. Pajak dinaikkan, subsidi dipangkas, pungutan diperluas, tetapi kesejahteraan rakyat tetap jalan di tempat. Sementara kelas istana justru semakin bugar dengan fasilitas, tunjangan, dan gaya hidup yang tak pernah mengenal kata hemat. Padahal, dalam tradisi fikih, prinsip penarikan pajak harus berlandaskan keadilan (al-‘adl fi at-taklīf). Imam al-Mawardi dalam al-Ahkām as-Sulthāniyyah menegaskan, harta rakyat tidak boleh dipungut kecuali dengan hak yang jelas dan untuk kemaslahatan yang nyata. Sebab itu, ‘Umar bin Khattab RA menolak menambah beban rakyat meskipun kas negara menipis, dengan kalimat yang tegas: "Aku tidak akan mempertemukan mereka...