Langsung ke konten utama

Memperbaiki diri

Tiga Tips Memperbaiki Diri

Bismillah walhamdulillah…asholatu wassalamu ‘ala rosulillah…

SEBAGAI hamba Allah azza wa jalla, kita senantiasa ingin mengoptimalkan ibadah kepadaNya. Di era penghujung zaman ini, godaan kefanaan dunia kian melindas iman dan islam, tentunya kita perlu terus-menerus mengintrospeksi dan memperbaiki diri agar tidak keliru memilih jalan. Selanjutnya, kondisi peningkatan kualitas diri merupakan senjata bagi kita pula untuk mendidik generasi buah hati.

Berikut sedikit tips yang penulis dapat share supaya kita menguatkan hati dalam memperbaiki diri.

1. Cinta Taubat.
“Jika kamu bertaubat sehingga taubat itu gugur dan kamu kembali melakukan dosa, maka, bersegeralah bertaubat kembali! Katakanlah pada dirimu:”Moga-moga aku mati sebelum sempat mengulangi dosa kali ini….”
(al-Ghazali)

Maksiat itu selalu haus akan kegiatan dosa yang berterusan. Maka siramilah taubatan sejati dengan dzikrulloh. Miliki target dan berkomitmen dalam aktivitas harian, misalkan : “Saya istighfar 100 kali.
Subhanallah walhamdulillah waLailahaillahu Allahu akbar 100 kali.
Allahumma solli ala Muhammad 100 kali. Membaca sayyidul istighfar pagi dan petang, dst…” Tandai ‘welldone’ dalam catatan pribadi ketika target tercapai, dan tambahkan terus-menerus list aktivitas kebaikan yang ingin dikerjakan.
Puaskan diri dengan menikmati kasih sayang Allah ta’ala melalui renungan dzikrulloh yang telah diterapkan.

Cinta Taubat ini janganlah ditunda, mari lakukan sekarang juga!

2. Jaga Sholat 5 Waktu!

Beberapa pembaca bertanya, mulai dari mana sih kalau ingin berubah menjadi lebih baik? Ingatlah, sholat adalah ibadah nomor satu yang akan ditanya oleh Allah Azza wa jalla kelak.

Serius. Sholat ini tiang agama! Bila solat kita ‘cuekin’, mustahil kita dapat berubah. Mustahil. Tak ada tiangnya, macam manakah bangunan dapat kokoh tanpa tiang?! Sholat yang dijaga, akan berterusan pada penularan amalan sholeh lainnya, insyaAllah. Hatta, kalau tidak sholat, yang wajib tidak dilakukan, Allah ta’ala tak menerima ‘yang asesoris lain’nya.

3. Mohon kepada Allah ta’ala agar dapat bersama teman-teman yang baik,

Mintalah Allah ta’ala yang memilihkan teman-teman kita, tarik kaki dari godaan maksiat, dari kumpulan teman yang tidak merindukan akhirat.

Jangan terlalu banyak menggunakan kata, “Aih masih muda, bolehlah hura-hura sekejap saja!” :'( Sungguh, kematian itu datang bila-bila masa, tidak harus pada usia tua, dan tidak mesti didahului penyakit. Saat ini, sudah banyak sahabat kita yang berusia belasan, dua puluhan atau di bawah 40-tahun-an sudah berpulang kepadaNya, tak cukupkah itu sebagai pelajaran buat jiwa kita ?

Kita mesti berlapang dada bila ditinggalkan oleh kumpulan kawan yang tak menyukai taubat dan perubahan diri kita, cukuplah kita teringat pada Allah. Temui teman-teman yang senantiasa memandu kita ke arah kebaikan. Teman yang menegur bila kita melakukan silap, yang mengingatkan waktu sholat kala kita lupa, yang mau menyokong perubahan kita menuju keridhoan Allah ta’ala.

Kata seorang penyair melayu :

“Elakkan dari bersahabatkan si hina. Kelak, ia pasti berjangkit umpama kudis yang menjangkiti orang sihat..”

Sahabat ini ada dua.

a)Ada sahabat syurga.
b)Ada juga yang mengajak ke neraka,
kita berada dimana? Tanyakan pada nurani.

Resapi makna ayatNya pada kitabulloh, (Alfurqan ayat 27-29)

“Taubat itu adalah penyesalan. Penyesalan dengan hati jernih, tekad kokoh untuk meninggalkan perkara maksiat, beristighfar dengan lidah, meninggalkan kejelekan prilaku dengan jasad dan menjauhkan diri dari para ahli maksiat…”

Pikirkanlah perubahan lebih baik ini untuk ‘kian disayangi Allah SWT’, bukan karena paksaan atau karena berharap sesuatu dari manusia, yang notabene makhlukNya jua. Selanjutnya, perbanyak untaian doa buat sahabat-sahabat nan sholeh, maka malaikat akan ‘meng-amin-kan’ dan doa terbaik itu berefek manis buat diri kita juga.

Semoga Allah ta’ala melimpahkan hidayah dan taufiqNya, barokallohu feekum…

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Berikut contoh naskah pembawa acara (MC) untuk acara Tasmiyah (Aqiqah dan Pemberian Nama Bayi) dengan susunan yang umum digunakan:

MC: Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh. Alhamdulillahi rabbil ‘alamin, washalatu wasalamu ‘ala asyrafil anbiya-i wal mursalin, wa ‘ala alihi wa ashabihi ajma’in. Amma ba’du. Yang terhormat para alim ulama, tokoh masyarakat, serta seluruh tamu undangan yang dirahmati Allah. Pertama-tama, marilah kita panjatkan puji dan syukur ke hadirat Allah Subhanahu wa Ta’ala, yang telah memberikan nikmat dan hidayah-Nya sehingga kita dapat berkumpul dalam acara Tasmiyah (Aqiqah dan Pemberian Nama Bayi) dalam keadaan sehat wal afiat. Salawat serta salam semoga senantiasa tercurah kepada junjungan kita, Nabi Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam, beserta keluarga, sahabat, dan kita sebagai umatnya hingga akhir zaman. Hadirin yang berbahagia, Sebelum kita memulai acara, izinkan saya membacakan susunan acara pada hari ini: 1. Pembukaan 2. Pembacaan Ayat Suci Al-Qur'an 3. Kata Sambutan dari Tuan Rumah 4. Ceramah Singkat tentang Aqiqah dan Pemberian Nama 5. Pembacaan Doa 6. Makan Bersama 7. P...

CONTOH UNDANGAN SHALAT JENAZAH

_*UNDANGAN SHALAT JENAZAH *===========================* *إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَِـــــــــــيْهِ رَاجِـــــــــــعُون* *_TELAH MENINGGAL DUNIA SEORANG PEREMPUAN :_* *NAMA : .................* *UMUR : ...................*  *ALAMAT : ................)*  *KELUARGA : ..............* *MENINGGAL DUNIA : KAMIS, 13 RABIUL AWAL 1445 H / 28 SEPTEMBER 2023 M. JAM : 03.00 WITA.* *DI SHALATKAN PADA : KAMIS, 13 RABIUL AWAL 1445 H / 28 SEPTEMBER 2023 M.*  *WAKTU : BA'DA SHALAT MAGRIB.* *TEMPAT : RUANG INDUK MASJID * *DIMAKAMKAN : ALKAH KELUARGA, * *ATAS NAMA KELUARGA MENGUCAPKAN TERIMA KASIH IKUT MENSHALATKAN JENAZAH, MOHON MAAF ATAS KESALAHAN SEMASA HIDUP DAN BILA ADA TERKAIT HUTANG PIUTANG SEGERA HUBUNGI PIHAK KELUARGA* *اللهم اغفر لها، وارحمها وعافها، واعف عنها، ووسع مدخلها، واغسلها بالماء والثلج والبرد، ونقها من الخطايا كما ينقى الثوب الأبيض من الدنس، وأبدلها دارا خيرا من دارها، وأهلا خيرا من أهلها، وأدخلها الجنة، وقها فتنة القبر وعذاب النار* *جزا كم الله خيرا*

semanagat KERJANYA

Ibn Khaldun dalam Muqaddimah sudah menulis sebuah hukum sosial yang tragis: "Ketika negara masih kokoh, pajak sedikit namun hasilnya banyak. Tetapi ketika negara lemah, pajak diperbanyak, dan hasilnya justru semakin berkurang. Sebab rakyat tak lagi mampu menanggung beban." Ironinya, teori ini kini terbukti di depan mata. Pajak dinaikkan, subsidi dipangkas, pungutan diperluas, tetapi kesejahteraan rakyat tetap jalan di tempat. Sementara kelas istana justru semakin bugar dengan fasilitas, tunjangan, dan gaya hidup yang tak pernah mengenal kata hemat. Padahal, dalam tradisi fikih, prinsip penarikan pajak harus berlandaskan keadilan (al-‘adl fi at-taklīf). Imam al-Mawardi dalam al-Ahkām as-Sulthāniyyah menegaskan, harta rakyat tidak boleh dipungut kecuali dengan hak yang jelas dan untuk kemaslahatan yang nyata. Sebab itu, ‘Umar bin Khattab RA menolak menambah beban rakyat meskipun kas negara menipis, dengan kalimat yang tegas: "Aku tidak akan mempertemukan mereka...